Hari 1: Seminar Internet BAIK di Santika Hotel Bengkulu

Kamis, 07 Desember 2017

#internetBAIK? Bertanggung jawab, aman, inspiratif, kreatif!

Wah, akhirnya tim internet BAIK sampai juga di Bengkulu. Sebuah kesempatan baik untuk upgrade ilmu. Saat mendaftar via link di Facebook dan komunitas Blogger Bengkulu, ga terlalu merhatiin sih tanggal kegiatannya. Taunya malah barengan ama karnaval batik Besurek Bengkulu. Alhasil, saya sempat galau meskipun akhirnya memilih ikut seminar dan workshop internet BAIK saja. Soalnya kesempatan ini datangnya ga setiap tahun. Acaranya berlangsung selama dua hari, yaitu tanggal 5-6 Desember 2017 bertempat di Santika Hotel Bengkulu. 

Hari 1: Seminar Internet BAIK

Ada sekitar 250 orang yang menghadiri seminar ini. Mereka datang dari berbagai latar belakang pekerjaan, mulai dari guru, mahasiswa, komunitas, serta orang tua. Semua tampak antusias mengikuti kegiatan yang berlangsung mulai pukul 08.00 s.d 13.00 WIB ini. 

Seminar ini mengajak para peserta untuk saling bekerjasama mengkampanyekan gerakan internet BAIK. Seperti yang telah kita ketahui bahwa gadget dan internet seperti dua sejoli yang lagi kasmaran. Kalau salah satu ga ada rasanya kok ada yang kurang deh. Biasa dong kita lihat fenomena di sekitar, emak-emak yang sibuk WhatsAppan, remaja yang sibuk selfie atau senyum-senyum sendiri, anak balita yang nonton YouTube di tablet, para bujangan yang seru banget kalau lagi main ML ( mobile legend) sampai ngata-ngatain dan lain sebagainya. Itu tak seberapa, masih banyak terjadi kasus yang lebih bikin kita miris karena dampak negatif dari gadget dan internet ini. 

Oleh karenanya, tim internet BAIK yang terdiri dari Yayasan Kita dan Buah Hati, KAKATU School, serta ICW Watch dan Telkomsel ini merasa perlu melakukan road show internet BAIK ke berbagai kota di Indonesia agar semua warga Indonesia bisa bertanggungjawab terhadap apa yang mereka posting di media sosial dan website lainnya, memastikan bahwa gadget dan internet aman dilihat atau ditonton oleh anak dan remaja, mampu menginspirasi orang banyak melalui apa yang dibagikan di internet serta bisa membuat konten kreatif yang bermanfaat, menghibur bahkan menghasilkan pendapatan dari hal-hal baik yang mereka kerjakan menggunakan internet.
Mulia sekali ya tujuannya? Nah, kesemua tujuan atau harapan itu tidak bisa terwujud jika tidak ada dukungan dari berbagai pihak. Siapa saja?

1. Orangtua


Yes, orangtua sebagai lingkungan pertama adalah ujung tombak dalam pola asuh anak. Banyak alasan orangtua akhirnya memberikan gadget di usia dini agar anak mereka bersikap tenang, tidak main di luar rumah, atau sekadar ikut trend. Fenomena di Indonesia yang sering terjadi adalah orangtua bahkan mengenalkan gadget dan internet pada anaknya bahkan saat anaknya masih dalam kandungan. Misalnya saja, meng-upload foto hasil USG di medsos, membuatkan akun Instagram anak sejak bayi, membiarkan anak balita menonton YouTube berjam-jam, tak mengawasi postingan anak-anak mereka yang beranjak remaja, dan sebagainya.

That's why anak-anak kita lebih nempel pada gadget dan internet ketimbang dengan orangtuanya karena kita sebagai orangtua tanpa sengaja membiasakan mereka lebih senang berinteraksi dengan internet daripada orang-orang di sekitarnya. Jadi apa yang harus kita lakukan sebagai orangtua?
  • Bangun komunikasi dan kelekatan pada anak. Jangan biarkan anak-anak kita lebih dekat dengan gadget ketimbang orangtuanya. Ajak mereka berkomunikasi, bercerita setiap hari tentang apa yang mereka rasakan dan lakukan pada hari itu, pujilah anak jika melakukan hal baik, sebisa mungkin hindari membentak atau marah pada mereka. Jika anak sudah merasa nyaman dengan orangtuanya, maka mereka tidak akan mencari jalan keluar lainnya dari masalah-masalah yang mereka hadapi.
  • Trust. Bila hal di atas berjalan dengan baik, maka akan timbul rasa percaya di antara orangtua dan anak bahwa orangtuanya akan selalu menyayangi dan mendukung anaknya melakukan sesuatu yang baik, bisa menyelesaikan masalah dan mencari jalan keluarnya secara bersama-sama.
  • Edukasi. Sehingga, jika anak sudah mempercayai orangtuanya maka akan lebih mudah bagi orangtua untuk mengedukasi anak apa saja hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan saat berselancar di dunia maya. 
  • Kontrol. Maka tugas orangtua selanjutnya adalah mengontrol apa saja yang dilakukan anak saat bermain gadget dan internet. 

2. Masyarakat


Masyarakat termasuk tetangga dekat, kakek nenek dan semua orang yang berinteraksi dengan lingkungan anak juga harus bekerjasama mendukung kampanye internet BAIK ini. Misalnya saja, tidak membolehkan anak berseragam sekolah atau usia sekolah untuk nongkrong di warnet saat jam sekolah berlangsung. Mengadakan kegiatan bermanfaat seperti karang taruna, gotong royong, lomba, ataupun kegiatan lainnya yang melibatkan anak , remaja, dan orangtua. Sehingga, anak-anak tidak selalu fokus pada internet dan gadgetnya.

3. Sekolah


Selanjutnya, bagaimana peran sekolah? "Membuat lingkungan sekolah ( siswa) yang BAIK dalam menggunakan internet". Oleh karenanya, pihak sekolah baik guru ataupun manajemen sekolah harus melakukan hal-hal berikut ini:
  • Up to date. Yup, guru dianjurkan up to date dengan apa yang sedang menjadi trend di kalangan siswa. Misalnya saja beberapa waktu lalu, tren Blue Whale Challenge booming di media sosial. Challenge ini menantang para remaja untuk melakukan beberapa hal mulai dari yang biasa sampai berbahaya yang berujung bunuh diri. Tren lainnya fenomena ADM (artis dunia maya) yang mirip sebuah komunitas anak-anak di mana para remaja ini memposting foto atau tulisan vulgar di akun medsos mereka.
  • Edukasi siswa dan ortu. Tentu saja, banyak sekali kasus terkait gadget dan internet ini yang diketahui oleh pihak sekolah. Misalnya saja kasus  menonton video porno bersama teman-temannya di sekolah saat jam istirahat. Oleh karenanya, pihak sekolah bisa mengundang orangtua ataupun siswa yang bermasalah untuk diberikan edukasi mengenai internet BAIK ini.
  • Membuat kebijakan. Selanjutnya sekolah juga bisa membuat kebijakan, misalnya tidak membolehkan siswa membawa gadget yang bisa mengakses internet ke sekolah atau mengumpulkan semua gadget saat jam pelajaran berlangsung kemudian mengembalikan pada siswa saat sekolah usai. Serta kebijakan lainnya yang bisa mendukung internet BAIK ini terlaksana.
  • Kontrol dan evaluasi. Terakhir, pihak sekolah harus tetap mengontrol dan mengevaluasi perkembangan penggunaan gadget dan internet siswa saat di sekolah. Saat ini bahkan ada aplikasi yang bisa digunakan untuk mengontrol penggunaan internet di sekolah. Aplikasi ini bernama KAKATU School. Aplikasi di smartphone yang membantu sekolah dalam menghadapi permasalahan pornografi dan kecanduan gadget pada siswa ini penting banget di install di semua gadget siswa. Sayangnya, hanya sekolah tertentu saja berkesempatan mendapatkan fasilitas KAKATU ini. Di kota Bengkulu saja hanya ada 6 sekolah, yakni SDN 1, SDIT IQRA 1, SMPIT IQRA, SMPN 1, SMPN 2, dan SMPN 4. Semoga nantinya seluruh sekolah bisa memanfaatkan fasilitas ini deh.
Wah, sudahah panjang aja tulisannya. 😁
Di hari kedua ada 3 workshop yang akan diadakan di acara internet BAIK ini. Jadi dari 250 orang yang menghadiri seminar ini akan disaring lagi menjadi 75 orang terpilih yang berhak mengikuti salah satu dari 3 kelas berikut ini:
1. Student education Class
2. Blogging
3. Blogging
Kita bisa pilih mau masuk kelas mana yang diminati. Saat registrasi hari pertama, kita udah diminta memilih kok mau masuk kelas yang mana. Oleh karena saya niatnya datang ke seminar ini emang mau dapat ilmu edukasi siswa biar bisa disharing lagi ke rekan kerja, ortu dan siswa maka saya memilih kelas yang pertama: Student Education Class. Mupeng juga sih sebenernya mau ke kelas Blogger dan Vlogger tapi karena harus memilih ya pilih sesuai tujuan awal tadi. Alhamdulillah ilmunya bermanfaat sekali. Untuk workshop hari kedua akan saya ceritakan di postingan berikutnya ya. 😉
11 komentar on "Hari 1: Seminar Internet BAIK di Santika Hotel Bengkulu"
  1. Terimakasih banyak ya mbak sharingnya, bermanfaat banget, memang edukasi berinternet yang sehat diperlukan di tengah kondisi saat ini

    BalasHapus
  2. Ya, ortu zaman now sering ngasih gedget asal anak diam, gak nangis. Padahal butuh kontrol ekstra. Semoga saya, kamu dan kita semua bisa jd ortu yg handal mengasuh dan mendidik anak ya..

    BalasHapus
  3. Aku milihnya kelas video maker Mba. Beruntung banget bisa ikutan. Semoga makin banyak acara sejenis di Bengkulu biar yang lain juga ikut teredukasi perihal internet baik.

    BalasHapus
  4. Bener mbak, anin mau ikut juga karena acara ini ga setiap tahun ada. Semoga selanjutnya bisa ada acara seperti internet baik ini di bengkulu ya mbak.

    BalasHapus
  5. seminar #internetbaik ini bagus banget, aku jadi tahu kalau sayang sama anak itu ukannya membelikan gadget untuk mereka bermain, tetapi menemani mereka bermain

    BalasHapus
  6. Iya menurut sya juga orang tua ini yang mmeperkenalkan inet sekaligus menyaring utk anak2 ya mbak. Juga kalau bisa kerja sama dengan sekolah, guru, dan lingkungannya TFS

    BalasHapus
  7. Iya menurut sya juga orang tua ini yang mmeperkenalkan inet sekaligus menyaring utk anak2 ya mbak. Juga kalau bisa kerja sama dengan sekolah, guru, dan lingkungannya TFS

    BalasHapus
  8. Sekolah anakku yg SMP tidak membolehkan bawa hp ke sekolah. Kalo yg SMA boleh bawa, tapi harus dimatikan saat jam pelajaran, baru boleh dihidupkan saat pulang sekolah.

    BalasHapus
  9. Waw, banyak bgt ya pesertanya sampe 250. Antusiasme yang begitu tibggi ini semoga bisa menularkan kepada bnyak org agar menggunakan intetnet dg baik dan bijak

    BalasHapus
  10. Di sekolah anakku bisa bawa hape&digunakan ketika pulang sekolah untuk komunikasi dengan ortu. Disekolah ada waktu belajar dengan online

    BalasHapus
  11. Yee, aku masuk di dalamnya, Seminar kyak gini jangan di lewatkan. ilmunya geratis pula. Mantap

    BalasHapus

Terimakasih sudah mengunjungi blog ini. Silakan tinggalkan komentar yang bermanfaat

Auto Post Signature

Auto Post  Signature