Memanfaatkan Media Sosial untuk Pelajar Milenial

Jumat, 09 November 2018
Media Sosial sudah jadi gaya hidup anak Milenial, anak zaman now. Kalau dulu para pelajar ini akan dengan sopan bertanya dengan gurunya "Ma'am nomor handphone-nya berapa?" Kalau sekarang pertanyaan mereka berganti menjadi "Ma'am punya akun Instagram gak? Follow aku dong!" Oh tentu saja sebagai guru yang juga Milenial aku punya dong akun Instagram, Twitter, Facebook, LinkedIn, Path... *Lah, malah banyakan gurunya 😁

Tentu saja sebagai seorang pendidik yang aktif menggunakan media sosial, aku tahu betul bahwa banyak sekali dampak positif dan negatifnya dari media sosial ini. Sebut saja salah satu dampak negatifnya, Fenomena ADM (Artis Dunia Maya) yang pernah aku tulis di sini atau mengenai viralnya challenge tertentu di kalangan remaja ini. Seperti Blue Whale Challenge yang juga pernah aku bahas di blog ini. Tapi kali ini aku tidak akan membahas dampak negatifnya, melainkan menuliskan beberapa manfaat untuk pelajar dalam penggunaan media sosial.



1. Media Sosial sebagai Media Belajar


Ketika sesuatu yang dekat dan akrab dengan para remaja ini dibawa ke dalam kelas, maka menurut pengalaman aku antusias belajar anak-anak ini meningkat. Sebagai contoh, sulit untuk mencari native speaker di Bengkulu sebagai model dalam belajar bahasa Inggris. Maka, solusinya mencari akun Instagram atau YouTube yang dikelola oleh para native speaker ini sebagai media belajar di kelas. Aku pernah memanfaatkan akun Instagram dan YouTube Mr.D (Native speaker dari Amerika) yang memang fokus membuat konten belajar bahasa Inggris untuk ditayangkan di kelas. Tentu saja para pelajar ini sangat senang. Mereka memperoleh informasi bahasa Inggris langsung dari penutur aslinya. Bagaimana cara mengucapkan kata bahasa Inggris dengan benar, bagaimana memahami sebuah kalimat idiom dan sebagainya.

2. Media Sosial sebagai Sarana Publikasi Hasil Belajar


Setelah para pelajar ini mengamati akun-akun yang bermanfaat dalam proses belajar mengajar, maka mereka pun diarahkan untuk ikut serta membuat konten positif. Saat itu sebagai guru bahasa Inggris, aku meminta mereka membuat video procedure text secara berkelompok. Dimana nantinya video yang mereka kerjakan ini bisa diunggah ke media sosial sebagai konten positif. Sehingga para pelajar ini ikut aktif mewujudkan internet sehat.

Saat proses belajar mengajar memanfaatkan media sosial inilah aku menyampaikan betapa pentingnya untuk menyaring informasi sebelum menyebarkannya kembali. Apakah berita yang didapat hoax? Apakah tidak menimbulkan perpecahan antar umat beragama? Apakah bermanfaat untuk orang lain?

Kemudian, aku juga menanyakan apakah di antara mereka memanfaatkan media sosial dengan cara lainnya selain untuk pamer atau upload foto selfie?


Aku salut loh, ternyata beberapa dari mereka bisa memanfaatkan media sosial dengan baik, diantaranya

1. Sebagai Alat Diskusi Belajar


Aplikasi messenger seperti WhatsApp saat ini sudah dimanfaatkan oleh siapa saja. Tak terkecuali para pelajar ini. Mereka mengaku menggunakan WA Grup untuk saling bertukar informasi dan berdiskusi mengenai pelajaran. Menanyakan soal-soal yang sulit untuk diatasi bersama. 

2. Sebagai Alat Komunikasi dengan Penutur Asing


Beberapa dari mereka bahkan memanfaatkan messenger di Facebook ssebagai alat komunikasi untuk belajar bahasa asing. Setiap kali aku masuk kelas mereka sering menanyakan, "Ma'am maksudnya kalau di chat ada yang nulis ROTFL apa? Kalau ini apa? Itu apa?" Wah, aku sampai kewalahan kadang menanggapinya 😁. Setelah aku tanya, "Ngapain sih kok nanya yang di luar materi belajar?" Mereka menjawab, "Kami chatting sama orang dari sini, sini, sini dan sini... (Menyebutkan beberapa negara berbeda). Gak apa-apa kan Ma'am?" Tentu saja aku bilang tidak masalah, malah bagus loh bisa belajar banyak dari mereka mulai dari bahasa dan budaya. Asalkan jangan 'kabur bareng' aja. Ingatku saat itu. Alhamdulillah sampai sekarang mereka masih ada di Indonesia, belajar dengan baik. 😄

3. Sebagai Alat Jual Beli Online


Tak disangka, beberapa dari mereka bahkan ada yang memiliki media sosial untuk dipergunakan sebagai online shop. Iya, mereka jadi reseller atau dropshipper dari suatu agen. Wah, keren sekali sudah bisa menghasilkan uang jajan sendiri. Mereka menunjukkan akun Instagram online shop yang mereka kelola. Ternyata pembelinya ada loh. Memang sih ruang lingkupnya belum besar, baru sebatas teman-teman. Tapi itu menurut aku udah kece banget.

Sebagian akun juga tidak dikelola sendiri, melainkan milik orangtua atau saudara. Jadi mereka pakai sistem bagi hasil kalau ada barang yang laku. Untuk modal pun masih dibantu oleh orangtuanya. Terus waktu aku tanya apa tipsnya nih biar bisa jual barang lebih murah?

Kata mereka, bisa dengan menghubungi supplier utama. Bukan dari tangan kedua, ketiga dan seterusnya. Atau membuat sendiri produknya. Beberapa juga memanfaatkan flash sale dari berbagai merchant online, seperti dari Lazada.


Terus aku jadi ingat dengan program Lazada 11.11. Itu loh program belanja sehari dari Lazada yang diskon besar-besaran pada tanggal 11 November nanti. Nah, saat festival belanja terbesar ini siapa saja bisa mewujudkan barang impiannya (wishlist) dengan harga murah. Saat kutanya para pelajar milenial ini, "If you have a chance to buy something in small price, what are you going to buy?"Tentu saja jawaban mereka bermacam-macam. Namun, beberapa di antaranya yang sering mereka sebut adalah

1. Smartphone Keren

Tentu dong ya ini gadget impian semua orang. Biar tetap eksis di dunia maya. Apalagi kalau kamera smartphonenya keren, maka terwujudlah sudah keinginan untuk sering-sering update snapgram. Hahaha...

2. Kuota dan Pulsa Tanpa Batas

"Ma'am, kalau smartphone keren gak ada kuota sama pulsa percuma. Makanya aku mau kuota dan pulsa yang gak abis-abis" Celetuk salah satu dari mereka. Setelah kupikir-pikir ada benarnya juga ya. 

3. Peralatan Sekolah


Terakhir yang banyak disebut tentu saja peralatan sekolah. Seperti tas, sepatu, alat tulis, buku dan sebagainya. Beberapa ada yang pengin punya laptop kelas. Kelasnya dipasang AC atau kipas angin. Kalau aku pribadi sebagai guru sih, maunya setiap kelas dipasang proyektor LCD biar kalau mau memanfaatkan teknologi gak repot-repot lagi minjem di kantor.

Yes, itu dia manfaat media sosial bagi pelajar milenial berdasarkan hasil pengalaman dan wawancara di beberapa kelas. semoga wishlist di atas bisa terkabul ya di festival belanja Lazada nantinya. Tentu saja harapan aku nanti, kalau mereka sudah punya smartphone keren dan kuota tanpa batas. Belajarnya gak malas-malasan lagi karena kebanyakan main media sosial. Apalagi kalau peralatan sekolah sudah baru semua, gak ada alasan juga dong gak semangat belajar. 




17 komentar on "Memanfaatkan Media Sosial untuk Pelajar Milenial "
  1. Wah,,good idea kakak,selama ini belum kepikiran buat memanfaatin flash sale untuk "manggale" lagi. Tfs ya kak.

    BalasHapus
  2. Aku menggunakan media sosial utk media mahasiawa mengumpulkan tugas mba. Lumayan efektif sih

    BalasHapus
  3. Keren nih bu gurunya, memanfaatkan kecenderungan bermedsos anak2 untuk belajar.
    Pernah nih dulu aku ngisi pelatihan organisasi ke adek2 pencinta alam. Kalau sekedar materi jurnalistik tentunya kurang menarik ya. Monoton kan ya dikasih materi saja trus mereka mendengarkan. Akhirnya kukasih tugas aja bikin video seputar acara itu. Malah asyik dan pada sibuk semua. Lumayan, mereka punya bahan untuk update di sosmed juga kan. :))

    BalasHapus
  4. Iya bener. Anak2 generasi milenial jaman sekarang mana mau belajar dengan cara konvensional. Jadi guru harus inovatof dan kreatif

    BalasHapus
  5. Media Sosial memang banyak manfaat jika kita tau penggunaannya secara bijak..terutama Bahasa asing mba, kalua untukku. Btw, aku sudah follow blog ini yaaa :)

    BalasHapus
  6. bener ya anak generasi sekarang apa apa udah ngandelin smartphone , mana bisa hidup tanpa kuota huhu

    BalasHapus
  7. media sosial bagai pisau bermata dua ya, ada sisi positif dan negatif ya, asalkan dimanfaatkan dengan baik, banyak sisi positif drai media sosial bagi pelajar ya

    BalasHapus
  8. Media sosial sekarang banyak digunakan ya, untuk jualan iya, untuk komunikasi iya, untuk pembelajaran juga iya. Beberapa waktu lalu, anakku ada tugas bahasa inggris, diminta upload suatu gambar dan menceritakan dalam bahasa inggris selama 7 hari berturut-turut.

    BalasHapus
  9. Anak zaman now cara belajarnya juga bisa kayak kita dulu. Zaman udah berubah. Kita harus memanfaatkan teknologi yang ada

    BalasHapus
  10. Wah ide untuk belajar melalui IG orang asing bagus juga ya mba.. Anak-anak jadi makin luas wawasannya ya..

    BalasHapus
  11. Anakku yg baru kelas 2 SD aja lebih suka belajar dg multi media dibanding cara belajar konvensional. Butuh penjelasan yg dibuka google atau yutub. butuh gambar buat bikin kliping, yang dia buka pinterest, hahaa ampun deh..

    BalasHapus
  12. Wuah salut lho sama yang kelola online shop. Jiwa entrepreneurship-nya sudah terbangun.

    BalasHapus
  13. Aku medsos lbih sering dipakai ajang belajar dan silaturahmi jarak jauh mba.. bnyk manfaatnya meskipun kita hrs bijak mnggunakanya

    BalasHapus
  14. Anak-anak saya juga sering mengandalkan internet ketika lagi belajar. Termasuk anak saya yang hobi memasak lebih banyak belajar melalui YouTube

    BalasHapus
  15. iya, medsos sekarang bisa dimanfaatkan buat belajar jg ya. great idea!

    BalasHapus
  16. Media Sosial sebagai Sarana Publikasi Hasil Belajar, aku setuju banget Mbak. Saya bekerja di training center sebuah Kementerian, dan kantor kami memanfaatkan teknologi dan juga sosmed untuk melakukan publikasi hasil belajar sekaligus juga publikasi proses belajar :)

    BalasHapus
  17. Medsos untuk sarana belajar ini sudah dilakukan sama guru IT sejak kami masih kelas 10 SMA, emang seru banget. Belajar jadi lebih fun sih

    BalasHapus

Terimakasih sudah mengunjungi blog ini. Silakan tinggalkan komentar yang bermanfaat

Auto Post Signature

Auto Post  Signature