Belajar dari Rumah, Sebuah Dilema bagi Pendidikan di Indonesia

Selasa, 12 Mei 2020
Sejak kasus pandemi covid-19 di Indonesia terdeteksi, pemerintah mulai melakukan social distancing atau physical distancing. Dimana masyarakat diwajibkan untuk menjaga jarak untuk mencegah penyebaran virus ini secara masal. Salah satunya dengan membuat peraturan agar sekolah ditutup sementara dan para murid harus belajar dari rumah.

Akhirnya munculah berbagai cara yang dilakukan oleh guru agar kegiatan belajar mengajar tetap terlaksana meskipun jarak berjauhan. Berikut ini beberapa apikasi yang digunakan oleh guru untuk menunjang interaksi dengan siswa saat belajar dari rumah:
1. WhatsApp Grup
2. Zoom
3. Quizziz
4. Kahoot
5. Google classroom
6. Google Form
7. Youtube

Para guru dan murid tentu terbantu dengan catatan memiliki fasilitas serta koneksi internet yang memadai. Bagi guru yang berstatus PNS, mungkin tidak terlalu menjadi kendala. Namun, bagi guru honorer membeli jatah kuota dengan gaji tak seberapa tentu masalah besar yang harus dihadapi.

Betul adanya, bahwa pemerintah katanya memberikan jatah pulsa dari dana BOS untuk mendukung Belajar dari Rumah ini. Namun, kenyataan di daerah saya sendiri, dana tersebut tak kunjung dicairkan. Padahal daerah lain sudah ada yang mendapatkannya.

Tak hanya sebatas itu, guru mesti dihadapkan juga pada kenyataan bahwa tak semua murid memiliki akses internet, khususnya bagi murid kurang mampu. Pengalaman saya yang mengajar selama masa pandemi ini, sulit sekali mengontrol mereka belajar. Saya selalu mengupayakan agar mereka mengirimkan laporan belajarnya setiap hari. Bahkan, di waktu tertentu saya memberikan pulsa gratis bagi murid yang giat belajar dan melaporkan kegiatannya selama di rumah.

Namun, apakah hal ini berjalan baik sepenuhnya? Tidak. Masih saja ada murid yang sama sekali tidak peduli. Bahkan tidak menanggapi sama sekali diskusi ataupun mengirimkan laporan kegiatan belajar di rumah. Maka hal ini menjadi sulit dikontrol, apakah murid tersebut tidak belajar? Belajar tapi tidak mengirim laporan? Dan sebagainya.

Kerjasama dengan orang tua memang sangat diperlukan di masa saat ini. Jika sebelumnya orangtua harus mengontrol belajar anaknya sepulang sekolah saja, maka saat ini menjadi seharian penuh. Bagaimana dengan orangtua yang harus tetap bekerja di luar rumah? Buruh pasar, tukang parkir, nelayan, petani? Tentu sulit bagi mereka untuk mengontrol aktivitas belajar di rumah. Boro-boro ngerti cara menggunakan aplikasi-aplikasi yang saya sebutkan di atas sebelumnya.

Pemerintah sendiri tak tinggal diam sebwnarnya dengan masalah ini. Melalui channel pendidikan di televisi akhirnya dibuatlah siaran untuk murid belajar di rumah. Sebut saja di TVRI mulai dari usia PAUD hingga SMA ditayangkan materi belajarnya. Pertanyaannya lagi-lagi, apakah murid di rumah menonton? Membuat kesimpulan? Memahami pelajaran? Saya tidak bisa menjawab, akan tetapi harapan saya semoga semuanya mengikuti.

Mari sama-sama berdoa agar pandemi ini segera berakhir dan kegiatan belajar di sekolah menjadi lebih menyenangkan setelah ini.
15 komentar on "Belajar dari Rumah, Sebuah Dilema bagi Pendidikan di Indonesia"
  1. AKu baru tau Kahoot and Quiziz itu bisa jadi media home learning. Itu gimana caranya ya? Kirain cuma dipakai buat quiz2 aja.

    BalasHapus
  2. Saya yang bukan praktisi pendidikan juga ikut pusing bayanginnya sih Mba untuk yang di daerah terutama. Saya yakin tidak semua ortu punya smartphone dan punya waktu atau kesadaran untuk memprioritaskan mendampingi anak belajar. Belum lagi kendala yang dihadapi guru honorer. Semoga ada keajaiban ttg covid 19 di sini meski makin hari makin miris juga sih PSBB kok di Jkt masih macet. Semoga para paktisi pendidikan tetep semangat dan diberikan kelancaran rizki serta kesehatan amin :)

    BalasHapus
  3. Kerjasama orangtua penting banget memang selama belajar dari rumah ini, orangtua cuek berarti gak tau tugas anak-anaknya. Dilema memang ya jadi guru kalau kasih tugas online kebanaykan kadang diprotes orangtua tapi guru juga punya tanggung jawab & harus buat laporan. Kalau aku dari sisi orangtua gpp sih sesekali melakukan pembelajaran melalui zoom misalnya tapi sebaiknya jangan terlalu sering :)

    BalasHapus
  4. Selain soal hp canggih apa enggak, akses internet lancar apa engga, kuota bs beli apa engga, kendala lain yg di hadapi ortu adalah soal gaptek nya sama teknologi. Awal wfh itu aku agak lama baru ngeh cara kerja zoom, kasian anakku, hahaha

    BalasHapus
  5. Yap teryata memang tak mudah ya mba belajar di rumah. Mungkin karena terbiasa anak belajar di sekolah dan drumah hanya mengulang saja. Berharap pandemi ini berahir

    BalasHapus
  6. Nah iya, aku jadi ingat guru yang datangin semua anak muridnya karena nggak punya akses internet di daerahnya. Hiks. Salut buat para guru yang masih semangat mengajar di tengah pandemi ini. Adikku juga guru SD Mbak, aku lihat gimana 'repotnya' mengajar virtual gini.

    BalasHapus
  7. Kalau anak-anakku lewat WA delegasi tugasnya Mbak, pembelajaran lewat video di WA atau Yutub, ada yang minta zoom dkk tapi kan ngga semua punya kuota ya, jadinya ya belajar online sederhana saja..

    BalasHapus
  8. Ini kedua kalinya aku baca tentang belajar dari rumah dari sisi seorang guru.
    Miris dan sedih, dan paham banget bagaimana guru-guru berusaha memberikan yang terbaik buat anak-anak muridnya.
    Terima kasih ya sudah mau berbagi pulsa untuk murid-muridmu, semoga Allah memberikanmu rezeki yang melimpah. Dan semoga pandemi segera berlalu agar kita kembali menjalani rutinitas tanpa beban.

    BalasHapus
  9. memang proses belajar dari rumah ini ada plus dan minusnya ya mba. Kami juga mengalami. Yang di Jakarta aja suka kendala apalagi tempat lain yang jaringan tidak begitu bagus or stabil ya

    BalasHapus
  10. Betul Mbak. Kalau yang berpunya gak masalah ya. Yg kasihan yg di desa-desa yang ortunya aja kadang gak ara hp. Tapi emang kondisi ini di luar dugaaan.

    BalasHapus
  11. Jangankan murid, mahasiswa saya yang udah gede- gede aja tanggung jawabnya masih rendah terhadap pembelajarn daring. masih suka ngentengin dan anggap remeh

    BalasHapus
  12. Yang tayangan pelajaran melalui televisi kadang susah diikuti mba. Saya sampe bingung gimana kudu ajarin anak karena cara penjelasannya ada yang tidak bisa dimengerti. Beda kaaan jika dibandingkan dengan penjelasan guru di sekolah secara langsung.

    BalasHapus
  13. Pembelajaran jarak jauh ( learning distancing ), tak bisa dipungkiri membawa PR baru bagi semua pihak terkait. Tak hanya pihak sekolah, tapi juga orang tua. Peran orang tua bisa dikatakan memiliki porsi yang besar untuk mendukung proses belajar di masa pandemi ini. Namun, permasalahannya adalah apakah semua orang tua memiliki smart phone? memiliki cukup paket data? Dan sebagainya.

    Dari posisi sebagai ortu, saya menyadari bahwa peran penting ortu sangat dibutuhkan agar anak-anak mengikuti pembelajaran jarak jauh ini. PR bagi ortu bagaimana mengatur jadwal agar bisa selaras dengan kebutuhan anak-anak saat jam pembelajaran on air.

    BalasHapus
  14. Ibu Intan jadi lebih sibuk pas ngajar via virtual ini Mbak Pura. Lebih emosian juga ngadepin anak2 yg suka ilang ilangan ga bisa dikontrol hahahha. Semoga, keadaan cepat membaik & semuanya normal lagi seperti sebelum pandemi. :))

    BalasHapus
  15. yang susah itu pendidikannya anak-anak kedokteran profesi mba :') yang ngajar lagi bertarung di garda terdepan, ga bisa diganggu. mau terjun juga tapi kami kan anak bawang. akhirnya dirumahkan aja tanpa instruksi apa-apa.

    BalasHapus

Sila berkomentar dan bertanya 😊 Semua komentar dimoderasi ya

Auto Post Signature

Auto Post  Signature